Cerita Cinta di Ujung Senja ( part 1 – 5 )

Namaku sheila, aku tak seperti teman -temanku yang bisa bebas dalam bermain dan bermain. Aku harus selalu menjaga adik dan membantu ibuku. Semua kunikmati dengan senang hati. Dari aku masih sekolah dasar sampai aku kini memasuki sekolah menengah pertama. Yah…sekolah yang pernah aku mimpikan akan mendapat teman baru, guru baru dan juga sahabat baru. Hari pertama sekolahku aku membawa harapan itu….Wow…ternyata benar sehari aku masuk kelas aku sudah mendapatkan beberapa teman. Teman yang baik, lucu dan juga menggemaskan.Hari demi hari kulalui bersama teman baruku penuh tawa dan canda.  Namun ada satu hal yang aku masih bertanya dalam hati. Anak lelaki itu yang selalu duduk sendiri di bangku paling  belakang , dia selalu menatapku dengan mata elangnya, penuh tanya dihatiku mengapa ia selalu lakukan hal itu. Apa salahku….? “Apa aku mengganggumu?” tanyaku dengan degup jantung yang tak terduga aku beranikan diri menyapanya.

Kenalkan Namaku Sheila, kamu siapa kok dari masuk pertama sekolah kamu tak pernah bergabung dengan teman -teman ? Namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya dan hanya senyum yang tersungging di  bibir tipisnya . Melihat tak ada kata apapun akupun meneruskan  untuk kembali duduk di bangkuku. Pelajaran pertama hari senin adalah sejarah. Sang guru sejarah pun masuk dengan anggunnya. Kupanggil beliau bu Sri. Yah nama lengkapnya Bu Sri Ngudiastuti. Sebuah nama yang bagus yang aku sangat mengaguminya. Tak terasa bel berbunyi membuatku merasa harus beranjak dari bangku kelasku menuju tempat bermain bersama teman-tamanku.

Mataku tertuju pada sosok yang setiap hari aku lihat, dari belakang punggungnya aku sudah mengenalnya, yah…dia si mata elang yang selalu duduk di bangku paling belakang. “Hai…..” sapanya tiba-tiba mengagetkan aku dari rasa heranku, akupun terkejut dan tak bisa berkata sepatahpun keluar dari bibirku, lututku terasa ngilu, kenapa tiba – tiba dia menegurku.

Image

mungkin ya mungkin bukan…

Akhirnya sesaat aku terdiam dan kembali sadar bahwa ada yang menegurku tadi, “ hai …kenapa kau disini, dimana teman –temanku Ical, Dian, Mawar, dan Yani ? “ tanyaku padanya. “aku ndak tau, dari tadi aku duduk tak ada seorangpun disini, katanya tiba- tiba seakan sudah mengenalku begitu lama. “Oya aku Hendrik” sambil mengulurkan tangannya.  Dan kusambut dengan baik seperti aku berkenalan dengan temanku yang baru lainnya. Hari itu adalah hari pertama dia berbicara denganku dan mungkin juga hari ini pertama kali dia senyum dengan lebar didepanku. Sungguh lucu hari itu..meski kami tampak canggung di buatnya. Tiba-tiba terdengar suara memanggil “Sheila……………” pantes …dari tadi di cari-cari gak ada ternyata di sini berdua, kata Mawar. Aku tersenyum melihat ulah mereka, seketika kami tertawa bersama.

Hari pertama ketemu dengannya menjadi hari-hari terindah di sekolah. Sungguh chemistry yang luar biasa, bisa membuat aku lebih rajin belajar dan membuatku lebih semangat untuk menunjukkan bahwa aku anak yang tegar, meski harus selalu menyisihkan waktu untuk pekerjaan rumahku. Apa itu cinta? Emm kata temanku kalo cinta pasti suka senyum sendiri. Masak sih secepat itu. Kalo ayahku tahu aku jatuh cinta wah..bisa-bisa aku diomelin. Kriiiiingng……..bunyi bel berbunyi, aku menatap luar anak-anak masuk kelas dan satu dua tiga….pasti dia yang datang dengan kaki panjangnya dan mata elangnya. So sweet….dan au….au…aku terbangun dari lamunan karena cubitan mawar.

 “Sakit tau..Mawar”

Mawar senyum – senyum menatapku sambil berkata “lagian dari tadi melamun terus, hayo sapa yang dilamunin “

“Selamat pagi anak-anak” sapa bu Julianti, guru bk masuk. Dan dengan senyum khasnya beliau menyapa kami. Sungguh bu guru yang luar biasa.

” panggil saya bu anti yah” kata beliau dengan lembutnya. Mata yang tajam itu menatapku penuh arti saat aku menoleh kearah bangku belakang. Dan deg..rasa jantungku terhenti sesaat.

”Kenapa si mata elang menatapku begitu?” guman Sheila, Namun segera ia fokus dengan guru cantiknya untuk menyimak materi yang diajarkan dengan ketulusan. Beliau membimbing kami dengan mulai meminta kami untuk membuat buku kreatifitas. Yah buku yang berisi nama, identitas, cita –cita, kesan dan pesan yang selalu kami tukarkan dengan teman-teman kami setiap hari sehingga kami lebih akrab di kelas itu yah kelas IB di sebuah SMPN2 di daerah Kretek.

“Sheila…kamu naik apa ,pagi –pagi kok sudah datang”? kata Ical.

“Biasalah dengan si item kesayanganku.” Si item itu adalah sepeda jengkiku yang diberikan padaku sebagai hadiah karena aku dapat lulus dengan predikat sangat memuaskan. Memang jarak rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh sehingga aku cukup mengayuh sepedaku untuk berangkat kesekolah guna mencapai mimpi dan cita-citaku.

“Cal kamu sama siapa ? Perasaan kamu tadi berdua deh tanyaku pada Ical menyelidik. “O…kalo itu aku gak mau kasih tahu biar nanti kamu sendiri yang tahu aku sama siapa” balas Ical membuatku penasaran. Tapi aku sembunyikan penasaranknya itu takut membuatnya makin menjadi mengoda dan mempermainkan perasaanku.

“Hai Sheil ….” dengan reflek aku mencari sumber suara itu. Yah ternyata dari balik jendela kelas suara itu berasal, dia melongokkan kepalanya dekat parkir sepeda, emm si mata elang lagi. Kenapa sih dia selalu membuntuti aku, kaya hantu aja kemana mana ngikut. Baru naroh sepeda udah ada suara yang mengejutkan. Semua berkecamuk dalam kepalaku, penuh rasanya.

 “ kamu kenapa malah bengong “ sapa Ical, “ Tuh di panggil kangmas…tambahnya mengoda lagi.

 “Kangmas….sapa maksudmu ?” tanyaku sambil melotot.

 Sementara yang ada di jendela dengan senyuman khas di bibirnya tetap menatapku dengan penuh arti. Pagi yang mungkin membuatku sebel sekaligus membuat rona di hariku.

Dari rumah Sheila selalu mengayuh sepedanya dengan kuat, dan penuh semangat bersama teman-temannya, ia bercanda dan bermain bersama di sekolah menengah pertamanya.Sheila anak yang lincah ia tak pernah mengeluh meski harus mengayuh sepeda cukup jauh untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-citanya. “Shel..kamu gak capai ya…setiap hari harus bangun pagi?” Mawar memandang dengan heran karena melihat Sheila tidak pernah datang terlambat.

“Kalo dibilang cape iya, tapi aku harus tunjukkan pada kedua orangtuaku kalau aku bisa dan aku sanggup, serta bisa mandiri”. Mawar makin heran kenapa jawaban Sheila begitu. “Memang kenapa ?” tanya mawar menyelidik. “

“Emmm…….” gumam Sheila. Tak ada jawaban juga dari mulutnya. Semua terdiam. Sunyi dan sepi tiba –tiba krinngggg….bel masuk kelas sudah berbunyi.

”Pagi Sheil…sapa si mata elang tiba-tiba.

” Ya pagi, kamu sudah mengerjakan matematika ?

” Ya, sudah tapi tau betul apa tidak, tolong lihat ya..koreksi bersama siapa tahu ada yang salah “ pintanya pada Sheila.

 “Ok deh… “. Sejak itulah hari – hari disekolahnya menjadi hari terindah, karena ia selalu bertukar pikiran dan belajar bersama. Meski kadang di warnai dengan perdebatan kecil. Siang itu terjadilah kesalahpahaman antara Sheila dan si mata elangnya. Sheila berpikir kalo si mata elang itu hanya memanfaatkannya untuk mengoreksi seluruh pekerjaannya, ia pun marah dan tak mau lagi melakukan hal itu.

“ Ical…”panggil si mata elang dengan kaki jenjangnya setengah berlari.

“Cal, kok Sheila mukanya merah ya..kaya jambu mengkel ya kalo lagi marah?” Ical tak menanggapinya hanya tersenyum pada si mata elang. Akhirnya Icalpun bergumam “ ya…gimana gak merah orang kamu sering minta koreksi PR sama dia, kan dia jadi bete, kaya gak tau Sheila aja kalo dah marah paling Cuma tahan sehari. Besok juga udah baik lagi.

“ Ya sih…tapi kan jadi aneh di kelas diem-dieman, lanjut si mata elang dengan gundahnya.

Nah itu dia….. “Sheil Sheil “sembari setengah berlari mengejar Sheila si mata elang berbinar ingin menyapa balik pada sahabat kecilnya itu. Namun semua itu sia-sia Sheila sudah jauh dengan sepedanya.  @2

Mentari menyembul di balik bukit cadas yang mulai gersang, udara dingin menyelimuti kulit dan menembus tulang, embun pagi yang bergayut dalam ayunannya perlahan memudar, hembusan sepoi angin menerpa wajah Sheila saat mulai mengayuh sepedanya menembus batas menuju sekolahnya. Sekolah yang ia banggakan, kini masuk ke tingkat yang ke dua. Yah Sheila sudah naik kelas, kini ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Tanpa terasa setahun begitu cepat berlalu, dengan sejuta keindahan dan kenangannya ia lewati penuh cita.

‘Sheil, kamu kelas apa ?’ sapa si mata elang tiba- tiba sesaat melihat Sheila memarkir sepeda itemnya.

“Belum tahu aku kan baru datang”, jantungnya seakan berdegup dengan kencang, entah kenapa setiap si mata elang mendekatinya hatinya luruh dan itu semua sudah setahun ia merasakannya, ada yang lain di hatinya.

‘kita lihat yukk, ajak si mata elang dengan tebaran senyum di bibir tipisnya.

‘ yuk, tapi tunggu teman kita mana…?” tak sempat dia menoleh tangannya sudah disambar dengan tarikan oleh si mata elang menuju tempat pengumuman kelas.

Sheil……Sheil …..kita sekelas yes… yes…. yes…..katanya dengan nada gembira penuh semangat. Binar matanya penuh harap pada Sheila seakan mengundang bahwa sheila juga harus sepertinya…gembira bahagia dan berbunga-bunga.

Iya…kita sekelas, ucap Sheila dengan tenang di hadapanya menyembunyikan perasaan bahagianya namun tidak dapat ia tutupi dari sorot matanya yang indah. Rambutnya yang  tergerai sebahu tertiup angin.

“sheil kamu seneng gak kita sekelas’ tanyanya tiba – tiba, aku seneng banget  bisa deket sama kamu terus meski kamu mungkin gak suka sama aku” katanya dengan bertubi- tubi membuat kepala Sheila menjadi pening.

Sesaat semua menjadi hening, Sheila terdiam dan lelaki bermata elang itupun terdiam duduk temenung sambil menatap kedepan jauh menerawang, tak tahu apa yang ia pikirkan.

“ Sheil , kamu mau gak kita selalu bersama- sama kalo belajar ?” tanyanya tiba-tiba. Sheila masih tetap terdiam belum mampu mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya.
“Sheil, panggilnya, kamu kenapa kok diam gitu “

“Ahh…eng…eng nggak kok” salah tingkah jadinya di buatnya. Semua akan akan baik-baik saja. Aku harus bisa menutupi semuanya. Jangan sampai dia tau kalau aku juga menyayanginya. Untung semua itu terselamatkan karena kedatangan teman-temanku Ical, Yani Mawar dan Harmi.

”Woy…”.kata mereka hampir bersamaan. Sudah lihat pengumuman kelas ternyata kita sekelas…………………..” teriaknya sembari melempar senyum.

“ Mulailah untuk menatap masa depanmu nak…” kata bunda Sheila, ‘Pikirkan Ibu yang semakin tua ini dan adik –adikmu, kamu harus jadi orang yang berarti bagi agama, nusa dan bangsa”. Selain pesan ibunya yang selalu terngiang adalah pesan ayah tercintanya yang selalu memberiikan motivasinya dalam belajar dan terus belajar.

Pagi yang cerah itu membuat semua menjadi jauh lebih baik, hari ini hari Senin awal masuk sekolah, upacara bendera pun melengkapi awal masuk sekolah, seperti biasanya petugas upacara menyiapkan perlengkapannya, dari mulai buku protokol, baju seragam petugas dan yang tidak boleh tertinggal adalah bendera Merah Putih, sungguh tampak gagahnya petugas upacara itu dengan berbalut baju putih-putih ala PASKIBRA (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka ) di Senayan saat upacara 17 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI. Yang sangat membuat kesan hikmat adalah sang komandan dengan balutan baju putihnya, peci hitamnya, ia tampak tegap dan perkasa, O…..ternyata sang komandan adalah si mata elang, dengan langkah tegapnya ia memandu upacara, sementara Sheila membaca protokol di depan dekat tiang bendera. Usai upacara semua lelah dan letih, yang dapat dilakukan adalah istirahat sejenak sambil menunggu bel pelajaran dimulai.

 “ Sheil …ni minumnya, buatmu. “.

 “ Sheil …ni minumnya, buatmu. “.

 Yah terima kasih, kamu baik banget …sih… tahu aja kalau aku haus..” tatap Sheila pada si mata elang yang sungguh perhatian terhadapnya.

“iya dong aku kan tahu kamu kehausan tuh…lihat dari tadi mulutnya komat kamit he he he ” dengan senyum manisnya ia menyambut pujian Sheila.

Sheilapun tampak menikmati minum yang diberikannya dengan senang hati, mereka bersama duduk di depan koridor UKS sementara teman-temannya sibuk dengan urusan mereka masing -masing.

Yah terimakasih, kamu baik banget …sih…” tatap Sheila pada si mata elang yang sungguh perhatian terhadapnya.

“iya dong aku kan tahu kamu kehausan tuh…lihat dari tadi mulutnya komat kamit he he he ” dengan senyum manisnya ia menyambut pujian Sheila.@3

Bel masukpun terdengar kini saatnya pelajaran biologi yah….sekarang gurunya yang baik dan ganteng kebapakan yang membuat anak-anak senang belajar.

 “Anak-anak sekarang kita belajar mengamati tumbuhan, kalian silahkan membentuk kelompok” Pak Budi pun memberikan Lembar kerja untuk tiap kelompok.

“ Sheil, kamu jadi ketua kelompok 1 yah”, kata mawar.

 “ Aku ikut yah…di kelompokmu, pinta si mata elang merayu. Yah boleh aja asal gak membuat yang satu  ini marah ya !

“Eh  tapi kalo marah dia jadi tambah manis, canda si mata elang itu membuat pipi Sheila semakin merah menahan malu. Kerja kelompok mereka memilih tempat di dekat ruang UKS, selain tempatnya luas, juga angin semilir selalu bertiup disertai bunga-bunga wora-wari yang sedang mekar, seindah jalinan kasih mereka. Akhirnya kerja kelompokpun hampir usai tinggal membuat kesimpulan terakhir.

 “ Cal, apa kesimpulannya, sekarang giliranmu untuk berpikir !”

 “kesimpulannya tanggal 03/ 03  ada yang sudah jalan bereng…….” 

“ gitu ya….emmm bagus ya kesimpulanmu, bisa buat merah lagi pipinya “ Balas Mawar dengan nada kesal. Sheila tetap terdiam menahan malu tanpa banyak kata-kata ia tinggalkan sahabatnya yang sedang sibuk mengurus kesimpulan kerja kelompoknya dnegan gurauan yang mungkin membuatnya agak sensitif, karena malu.

“Sheil…mau kemana? “Jangan pergi dong……” pinta si mata elang dengan penuh harapan. Namun sheila tetap melangkahkan kakinya menuju kelas.

“Tu kan kamu jadi buat dia sedih, sekarang  kalian buat kesimpulannya aku mau ke kelas lihat Sheila” sergah Mawar seraya beranjak menuju kelas. Setiba di kelas Mawar melihat Sheila tertunduk di mejanya, lesu memandang ke depan.

“ Sheil…kamu jangan gitu dong” bujuknya dengan lembut pada sahabat terbaiknya.

 “ Mawar aku malu, malu banget di depan temen –temen di bilang gitu sama Ical” dengan mata berkaca-kaca Sheila menatap Mawar.

“Sudahlah maafkan Ical, mungkin tidak sengaja” sesaat mereka terdiam karena melihat Ical , si mata elang dan beberapa temannya masuk kelas, pertanda kerja kelompoknya sudah selesai.

“ Sheil maaf ya” bisik Ical padanya.

“Ada pesen darinya kalo kamu marah tambah manis, karena pipimu makin merah kaya jambu “.  Mendengar  Ical, Sheila masih terus tertunduk, semakin menutupi malunya. Beberapa saat kemudian Pak Guru Biologipun memasuki kelas kembali, untuk membahas hasil kerja kelompok masing – masing. Satu persatu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan sekarang giliran kelompok Sheila yang maju untuk presentasi.

“Ayo Sheil kamu pasti bisa, gak usah dipikirkan kata-kata Ical tad”, pinta Mawwar pada Sheila.  Sheila maju untuk mempresentasikan hasil kelompoknya, meski dnegan sedikit gugup bukan karena takut dengan Pak guru yang berkumis tebal, namun grogi dnegan tatapan si mata elang dibangku paling belakang. Kenapa di sebut mata elang …karena  tatapannya penuh makna jika ia sedang memandang Sheila.

Kriiingggg………………bel berbunyi pertanda usai pelajaran, kini mereka berkemas untuk pulang kerumah masing – masing. Namun ada yang janggal hari itu, sedang apes atau sedang tidak rizki …tiba- tiba ban sepeda jengkinya kempes, dan…emmm Sheila hanya bisa menarik nafas panjang melihat ke arah ban sepedanya.

 “ Sheila belum pulang?” tanya pa Abu sang guru matematika.

 “Belum pak, ini ban sepeda saya kempes”.

“O kalo gitu kamu pinjam aja pompa di Mba Yam aja, nanti biar bapak yang pompakan” saran Pak Abu.

 Sheila pun menuruti permintaan pak Abu untuk meminjam pompa ke tempat mba Yam. Namun saat Sheila tiba di parkir sepeda, ia bingung kok pak Abunya gak ada, trus itu siapa yang duduk di samping sepedaku, dari jauh ia tampak mengenal sosok itu karena agak tertutup jeruji sepeda, sehingga ia terhaalang untuk melihat wajahnya, namun Sheila hafal dari sepatunya,yah sapa lagi yang pakai sepatu putih merk Nike kalo bukan si mata elang temannya yang sangat aneh dan lucu.

 “ Kamu lihat pak Abu ?” tanyanya .

“O……….pak Abu …..tadi ketemu aku, trus Beliau bilang “Hen jaga Sheila ya, itu ban sepedanya kempes tolong kamu bantu pompa, kebetulan bapak baru saja di telpon dari rumah, kalau anak bapak sakit, jadi bapak harus segera pulang”, gitu Sheil,  katanya dengan sangat meyakinkan pada Sheila membuat Sheila tidak begitu gugup menatapnya.

“ Ya sudah kalu begitu kamu minggir dulu aku mau pompa sepeda, pinta Sheila padanya. “ “Sheil aku bantu kamu yah, sini pompanya”.

Akhirnya Sheila luruh dengan nada sopannya, ia berikan pompa sepeda itu pada si mata elang yang sudah menemaninya sore itu. Selesai pompa itupun mereka kembalikan berdua, ke rumah mba Yam si ibu kantin.

“Minum dulu ya Sheil aku haus ni….“ Pintanya penuh harap.

“ Ya sudah ..” Sheila tak dapat menolak ajakan Hendrik si mata elang untuk minum di kantin mba Yam, seusai mereka mengembalikan pompa sepeda, karena ia sudah sangat baik membantunya kali ini.

Diperjalanan pulang merekapun beriringan naik sepeda, namun Sheila masih heran kenapa si mata elang itu mengikutinya, dengan cepat ia mengerem sepedanya dihadapan sepeda Sheila dan mereka  hampir bertabrakan.

 “Sheil aku anter kamu pulang ya.. udah sore masak kamu sendirian pulangnya ntar ada yang culik lo…” candanya.

“Gak usah repot – repot, rumahmu kan ke arah sana, lawan arah sama aku, lagian masih terang ini aku berani kok naik sepeda sendiri, makasih sudah membantuku tadi “ kata Sheila dengan harapan Hendrik tidak mengikutinya.

“ Boleh ya..Sheil, gak apa aku lewat tempatmu aja pulangnya, muter dikit tidak membuatku lelah, kan ada kamu disampingku”

Sheila hanya terdiam dan mengayuh sepedanya kembali, dengan membiarkan ia mengantarnya sampai depan rumahnya.

Kedua anak itupun bersepeda beriringan mereka sungguh serasi, meski masih dini mereka mengerti bahwa perjalanannya masih panjang. Masih perlu berbenah dan masih perlu menuntut ilmu yang lebih tinggii guna mengejar cita- citanya. @4

Selasa pagi, tampak anak-anak sedang membuat beberapa karya untuk memeriahkan acara hari Anak Indonesia, diantaranya sebuah lukisan yang di buat oleh salah satu siswa SMP kelas 2 yah…Manto namanya, sungguh indah lukisannya, “Anak ini berbakat, “kata pak Yul guru Seni. “To, sejak kapan kamu melukis, tanya pak Yul pada Manto

“tiap hari pak, orang saya mending nglukis dari pada belajar matematika, jawabanya sambil tersenyum”

“ Bagus kembangkan potensimu, kelak jadi pelukis ternama” kata Pak Yul dengan penuh semangat sambil meneput bahu Harmanto.

Semua anak sibuk dengan kegiatannya masing – masing tak terkecuali Sheila yang sedang membuat gradasi warna di kanvasnya, sedang temannya Ical, Yani, Mawar dan si mata elang sibuk dengan kegiatannya sendiri, mereka mempunyai topik masing – masing dalam berkarya. Waktupun usai, saatnya memberikan hasil karyanya pada Pak Yul dan akan dinilai oleh beliau siapa yang berhak mewakili sekolah menuju tingkat berikutnya yaitu kabupaten. Satu persatu lukiksan itupun dinilai, ketika Pak Yul melihat lukisan Manto beliau tercengang Subhanallah, bagus sekali seperti lukisan Efendi sang maestro. Beberapa lukisan terbaik ia kumpulkan untuk ditempel di Mading Sekolah sebagai penghargaan terhadap anak-anak yang sudah membuat karyanya, termasuk lukisan yang menggambarkan sebuah persahabatan dua anak manusia yang dilukis dengan sepenuh hati oleh si mata elang.

Riuh dan sorak sorai anak-anak saat melihat lukisan itu dipasang dimading, dengan menyelidik Sheila menghambur ke arah  mading yang terdapat dikoridor pintu masuk sekolah. Yah papan kaca yang lebar dengan hiasan dindingnya yang menawan, sangat menarik pembaca serta mengundang tanya sehingga akan selalu mampir di mading itu.

“Ada kabar baru ya..?” tanya Sheila pada Sony yang berdiri di depan mading bergerombol dan ramai membicarakan sesuatu. Tiba-tiba muncul si mata elang mengagetkannya. “Hai Sheil..mau lihat lukisanku ya….?

“Coba deh kamu tebak aku melukis apa ? “

Sheila mencoba melongok kearah papan itu dan deg..ternyata gambarnya ada di sana bergandengan dengan seorang anak lelaki yang tak lain adalah dia si mata elang.

“hei itu kan gambarku, kok kamu bisa gambar kaya gitu sih …? “ “bikin malu aja “ dengan kesal Sheila melangkahkan kakinya menuju kelas dan ia taruh tasnya di atas meja lalu ia telungkupkan kepalanya diantara tangan-tangannya.

“Sheil maaf ya kalo gambarku membuatmu tidak senang, habis aku bingung mau gambar apa, yang ada dipikiranku kamu yau udah aku gambar kamu aja..akhirnya” Si mata elang menarik bangku dan duduk didepan Sheila yang masih juga menunduk menyembunyikan wajahnya .

Si mata elang dengan setia menunggu Sheila bicara, namun tak ada katapun dari Sheila hanya rona merah dipipinya yang menggambarkan ia tampak geram melihat tingkahnya.

 “ Sheil aku minta maaf ya….” pintanya dengan penuh harap. Dengan hati luluh lantah Sheila akhirnya memaafkannya. “ Iya aku maafkan kamu, Hen “ .Tapi janji ya..tidak mengulanginya lagi, akhirnya kedua sahabat itupun semakin erat dalam menjalin persahabatnnya.

Sheila, Mawar, dan Yani adalah sehabat sejati, sementara si mata elang dan ical adalah dua sahabat yang selalu kemana-mana bersama, kekantin mba Yam, olahraga bahkan mengintip orang senampun selalu bersama. Itulah kelakuan mereka yang tertangkap basah oleh guru matematika, “ Hen, Cal ,sednag apa di sini ? “ tanya Pak guru dengan nada menyelidik. “Emmm anu…. anu…. Pak maaf duduk aja , hampir bersamaan mereka berkata dnegan nada gugup karena terkejut tiba- tiba ada yang tahu tempat persembunyiannya.

Pak guru pun tak segan memberinya saksi karena mereka tidak mengikuti senam bersama hanya bermain – main saja, sehingga mereka mendapat di minta untuk  membersihkan kamar mandi.

Yang namanya Ical dengan Hendrik memang dua sahabat yang sejati, suka dan duka ia rasakan bersama, sampai mereka membersihkan kamar mandipun penuh dengan tawa meski bau tak sedap menyeruak  di hidungnya.

Hen, kok tadi pak Na tau ya kita di situ?

Iya aku juga bingung Cal, tiba – tiba badanku di tepuk dari belakang waktu aku sedang mengamati Sheila senam di lapangan tadi, e…aku menoleh masyaallah ternyata pak Na yang dibelakangku

“Cepat Cal , kita bersihkan, nanti malu kalau ketahuan Trio Wek Wek, mau ditaruh dimana muka kita Cal,” ajak Hendrik pada Ical sahabatnya, dengan sigapnya Icalpun mengguyur lantai kamar mandi dengan air sehingga tampak bersih.

Selesai membersihkan kamar mandi mereka menuju warung mba Yam, disana anak-anak sudah penuh karena habis senam mereka haus dan lapar. “Kita beli bakwan sepuluh mba”, kata si mata elang sambil menerobos dalam kerumunan anak-anak lain. Setelah mendapatkan 10 buah bakwannya Hendrik pun menuju tempat Ical menunggunya, mereka makan berdua, sesuai bagian masing – masing, Ical 4 Hendrik 6 dan sebaliknya jika Ical 6 maka Hendrik 4, sungguh sebuah persahabatan yang sejati kala itu.@5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s